Monday, 19 September 2016

(Akhirnya) Ikut IELTS (Juga)

Untuk anak jurusan Bahasa Ingris atau yang mau lanjutin kuliah ke luar negeri pasti akrab ya dengan IELTS. Kalau ada yang beneran ngga tau dan nanya, biasanya saya jawab simpel aja “Sama kaya TOEFL, cuma ada speaking dan writing nya, daaaaaan mahal”. Jadi ya IETLS ini adalah salah satu tes international untuk mengukur kemampuan Bahasa Inggris. Dia sendiri ada dua jenis yaitu akademik dan general. Dari namanya udah jelas ya kalau yang akademik itu untuk urusan perkuliahan, sedangkan general untuk kepentingan lain semisal nyari kerja atau mau migrasi.
Dari awal saya udah nganggap IELTS ini horor, alasan pertama tentu saja karena biayanya. Ada ketakutan sendiri gimana kalau ternyata hasil yang diharapin ngga tercapai. Kalau TOEFL ITP masih bisa dikondisikan karna harganya masih di bawah 500k Rupiah, lah ini berjuta-juta. Padahal saya udah bela-belain les ke Kampung Inggris, Pare. Udah balik lagi ke Aceh, masih ngga berani ikut juga. Pertimbangannya panjang sekali. Lebih ke takut sih sebenarnya, saya merasa belum mampu terutama untuk Academic Writing.
Bulan puasa kemarin, karena sudah tidak ada lagi kegiatan rutin, lagi-lagi saya ngambil kursusnya, di KIES Aceh. Sambil berharap masuk shortlist beasiswa AAS yang akan dibayarkan ikut IELTS nya. Ternyata ngga lolos :’)
Sampai akhirnya di pertengahan Agustus saya memutuskan, it’s the time. Saya ngga mau semua yang dipelajarin nguap gitu aja, saya juga penasaran sih gimana hasilnya. Walaupun bulan Agustus kemarin semangat saya lagi drop, emosi sedang kacau-kacaunya. Saya gagal dua aplikasi beasiswa yang sudah saya mulai dari awal tahun 2016. Tujuh bulan bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu pengumuman. Setelah hela nafas kuat-kuat, membersihkan semua ‘what if what if’ dalam otak, dan move-on dari gagal jebol AAS dan Fulbright, saya bismillah-kan untuk ikut. I’ve been on the road, and I don’t want to stop.

Sunday, 17 July 2016

Moleknya Pantai Wonosari, Gunung Kidul, D.I Yogyakarta

Punya banyak teman itu anugerah. Apalagi kalau tersebar di banyak tempat. Contohnya saya yang beberapa bulan lalu ke Jogja dapet penginapan sama transport gratis. Pakai motor pula yang gampang kemana-mana. Sponsornya adalah Dek Nisah yang paling aku senengin intonasi dia kalau bicara, padahal hobinya ngejek dan bully aku yang sering dia katain tua, tapi suaranya haluuuus banget. Ngga kaya anak Aceh ini yang kalau bicara cepet-cepet-cepet dan bising. Dari bulan January masih di Pare anak ini pengen banget ke pantai, diulang-ulang terus kaya iklan. Ini anak tipikal introvert, kalo aku suka kulineran dan keramaian, dia sukanya nyepi, ke pantai ke gunung, atau tidur.
Pas dianya udah balik ke Jogja, sering saya tanyain udah apa belum ke pantainya, ternyata belum kesampaian. Duh, kesian kan? Akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke Jogja (lagi) dengan alasan nemenin dese ke pantai. Padahal lagi bosan dan butuh teman curhat sih :p Kosan Nisa ada di daerah Kasihan. Tapi dia mau ngajak jalan-jalan ke luar kota, ke Wonosari Kabupaten Gunung Kidul.
Pagi-pagi dengan sepeda motor berangkat bertiga dengan Nadya, temen sekosannya. Modalnya Cuma pake Google Map, tapi sebenarnya juga ngga repot-repot amat karna belasan KM Cuma jalan lurus dari Jogja. Begitu udah masuk perbukitan yang jalannya naik turun, ban motor Nadya bocor. Duh! Mungkin untuk di jalan di tambah dengan di bengkel waktunya lebih dan kurang dua jam.

Saturday, 4 June 2016

How To Wear Overall Dress

Teman-teman suka ngga sih pakai overall atau baju kodok? Entah itu yang dress atau model celana? Kalau saya termasuk seneng sama dua-duanya. Kece dan imut sih ya walaupun kadang suka ada yang bilangin kalau jenis pakaian ini terlihat kekanak-kanakan. Saya punya beberapa overall yang model celana, tapi jarang dipake karna kebanyakan ngepas banget di badan. Belakangan lagi seneng-senengnya dengan overall dress. 
Ada beberapa rules yang bisa diterapin kalau mau pakai overall:
  1. Tambahkan layer atau outer biar ngga kelihatan terlalu polos atau kalau pakaiannya terlalu ngepas di badan
  2. Carilah padanan yang warnanya beda dengan overall yang dipakai.

Tuesday, 17 May 2016

Knitted Long Cardigan - House of Sampoerna

Ini adalah outfit saya waktu ngehadirin salah satu seminar public speaking di Surabaya. Berhubung dari Acehnya ngga banyak bawa pakaian yang formal, jadilah knitted long cardigan ini yang dipilih. Karena bahan rajut bisa dibawa casual dan formal sekaligus.
Saya yakin sekali kalau cardigan atau jenis outer lainnya pasti dimiliki oleh hampir semua wanita. Karena praktis dan banyak manfaatnya. Untuk saya pribadi, cardigan sering jadi penyelamat kalo pakaian yang dipake lumayan ngepas. Atau waktu outfit yang dipake keliatan terlalu polos. Kalau bepergian dan ngga mau bawaan banyak, jangan lupa masukin cardigan karena gampang di mix & match. Lagi buru-buru atau males nyari baju juga gampang, pake piyama atau kaos rumahan tinggal ditutupin aja, ngga repot.

Monday, 9 May 2016

Hello, Trans Koetaradja!

Transportasi yang layak, aman dan nyaman adalah impian semua manusia di muka bumi ini. Siapa sih yang betah dengan macet dan padatnya jalanan? Kota Banda Aceh juga tidak terlepas dari keramaian. 2007 saya pertama sekali hijrah ke kota ini, belum seramai sekarang, yah walaupun belum semacet Jakarta atau kota besar lainnya. Hampir setiap orang dewasa punya motor sendiri, bahkan anak sekolah. Kalau mahasiswa jangan ditanya lagi, bisa saya hitung jari teman-teman yang ke kampus naik angkutan umum.

Orang-orang memilih naik kendaraan pribadi karena lebih efektif dan efisien. Butuh ongkos Rp 5000 untuk sekali naik labi-labi (angkot). becak juga luar biasa bayarnya, jarang di bawah 20ribu, Dengan uang segitu udah bisa ngisi bensin motor full-tank, begitulah selalu komentar orang-orang yang enggan menggunakan transportasi umum. Banda Aceh juga ngga punya Taxi yang sebenar-benarnya taxi. Ngga heran sih, betapa mudahnya kredit sepeda motor dengan biaya yang affordable.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...