Friday, 19 February 2016

Ke Pare, Worth It Kah?

Sudah hampir satu bulan saya di Pare. Perasaan gamang makin menjadi-jadi. Seperti di postingan sebelumnya, tujuan saya ke sini itu untuk belajar IELTS dengan target minimal 7,5 dan Academic Writing. 2 minggu kemarin belum terlalu berasa perasaan ngga enakannya. Sekarang sudah pindah ke tempat kursus yang mengharuskan kita untuk fokus. Sayanya langsung masuk ke kelas establish, tingkatan paling tinggi di kursusan ini. Di awal-awal lumayan kaget karena udah sekian lama ngga nyentuh IELTS dan hal-hal akademis lainnya. Setiap pagi kelas dimulai dari jam 5.30 sampai malam jam 9. Hectic sekali, jeda waktunya Cuma 30 menitan.

Tulisan ini hasil dari termenungnya saya dan 3 teman di depan kelas, abis nge-review soal. Saya sedih karna Listening banyak benarnya, tapi jadi salah karena typo, kurang titik, koma atau spasi. Sedih ngga sih? Begitulah IELTS, kita dituntut untuk jawab dalam waktu yang mepet tapi wajib teliti. Untuk Reading section saya merasa improved karena akhirnya nemuin metode mana yang paling sesuai untuk nyelesain passage yang panjangnya luar biasa itu.
Tempat kursus saya sekarang, ngga ada yang ngga bicarain scholarship atau ngelanjutin pendidikan. I can say, semua yang daftar ke sini punya tujuan yang sama: ngelanjutin S-2 luar negeri. Pasti akan terbandingkan diri dengan yang lain. Pasti! Positifnya kita jadi termotivasi untuk lebih baik. Ini pada ngantongin LoA dari university luar negeri. Malah ada yang udah punya lebih dari 5. Mana tutor-tutornya punya nilai TOEFL dan IELTS yang kece badai. Dewa banget kan ya? Dengan lingkungan dan pengajar yang suhu-suhu, nganterin ke pemikiran, ini aku yang dongdong apa gimana ya? Ya iya sih, mana mungkin langsung nilai setinggi apa, tapi juga kaya dikejar-kejar deadline. Kirain cuma ane doang yang kepikiran gitu. Ternyata teman-teman yang lain pun sama. Wohhohohohoho..
Tadinya kita cuma sharing tentang keselnya jadi salah gegara spasi doang. Sampailah ke pertanyaan semacam habis ini mau kemana. 2 dari kami (termasuk saya) adalah orang yang resign dari pekerjaan, satunya lagi izin dari ngajar di sekolah buat belajar IELTS, satunya lagi fresh graduate. Kegamangan kami semua sama “Merasa improve ngga sih?”. Dan dimulailah jujur-jujuranya. Saya pribadi banyak improve di Reading Section, setelah semingguan scoring terus, kemarin dapet 7 untuk band score nya, hari ini turun lagi jadi 6,5. Karena ngeliat ngga stabilnya hasil simulasi tes, niatan mau real test di April bau-baunya bakal diundur. Apakah cukup dengan kemampuan segini untuk ngikutin tes yang bayarnya hampir 3 juta?
Satu temen tetiba nangis “Aku masih juga pengen lanjut dan lama di sini, karena targetku belum tercapai. Tapi aku harus pulang dan nyari kerja lagi. Ngga mungkin minta ke orang tua”. Tambahan lagi, si temen malah udah pernah les IELTS sebelumnya di kursus ternama di kotanya. Temen yang lagi izin dari sekolahnya juga ikutan sedih. Pun yang fresh graduate (Padahal dia yang sering dapat score tertinggi), apalagi saya yang lebay ya? Terbengong-bengong lah kita berempat. Tapi percayalah, kami ini bukan orang yang kehilangan motivasi atau minderan. Malah udah punya tujuan yang jelas, dari awal niatannya ngga main-main. Itulah kenapa kita berkumpul di Kampung Inggris ini. Yang sudah kita sadari bukanlah tempat ajaib yang tiba-tiba hujanin LoA atau band score IELTS tinggi. Semua butuh proses kan ya? Terbengong-bengong dan questioning self yang sedang kami alami ini ya mungkin termasuk ke prosesnya. Well, sukses itu ngga ada shorcut nya. Ini adalah proses dimana nanti ketika yang saya usahakan tercapai, sayanya bisa buat les IELTS di Aceh (Amiiiieeeeen), I will read it again and say “Girls! See? We made it”
Akhirnya kita pelukan, yakinin diri kalau ini udah pilihan terbaik dan InsyaAllah worth it. Toh tutor-tutor yang kece-kece itu juga pasti udah ngelewatin tahap yang jumpalitan juga. Temen-temen yang pada dapet LoA itu juga bukan ke sini lucu-lucuan, mereka semua goal-oriented. Itu yang saya senangin dari tempat ini. Cerita sukses datang dari mana saja, tapi satu yang menyamakan mereka semua, PERSISTANCE! Dengan latihan, kerja keras yang berkesinambungan dan fokus, pasti akan sampai juga. Let’s start by saying Bismillahirrahmanirrahim..

Semangaaaaaaat ^^/

Desa Tulungrejo, Pare, 19 February 2016

Ichem ^^


No comments:

Post a Comment

Thank youuuu for dropping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...