Monday, 28 March 2016

Penyakit Orang Yang Suka Nulis

Saya pernah rajin nulis, terus berhenti. Dengan alasan ngga cukup waktulah, bosenlah dan sebagainya. Padahal, karena menulis selalu berhasil mengeluarkan seluruh emosi saya, dengan jujur. Then I started hating it, kok kayanya aku lebih pinter nulis yang sedih-sedih dan marah-marah ya? Padahal juga ngga gitu-gitu amat, tapi pas dibaca lagi kayanya iyuuuuh banget. Dan secara ngga langsung membaca itu semua, membangkitkan beberapa rasa; yang malulah, trauma, sakit hati. Dulu sering nulis di wordpress, sampai udah di-delete sekarang. Apakah teman-teman bloggers lainnya juga ngerasain sama? Atau juga nge-hide dan nge-delete postingan? Dari pengakuan Mba Del dan Teteh Mia, they did. Hahahhahaha..
Tapi belakangan saya mulai berdamai. When I have something to write, I will write. Karena ini pasti dirasakan oleh semua orang yang punya kecenderungan di bidang tertentu, seperti penulis lagu yang merasa harus langsung nuangin ide ke kunci-kunci nada, kalo ngga, ugh rasanya kepala mau pecah. Pun begitu saya, kalimat-kalimat di dalam kepala gangguin terus, sampai kadang kebangun tengah malam cuma buat curhat ke buku, yang malah kadang ngga penting-penting amat, tapi abis ditulisin, baru deh bisa tidur lagi. Fiuuuuh..
Sebenarnya, kemarin itu ngga betul-betul berhenti juga sih, hanya tidak dipublikasi lagi. Ya diem aja di belakang materi-materi kuliah, di berkas fotokopian gagal waktu kerja. Kaya peduli banget ya rasanya dengan komentar-komentar orang. Apalagi kalo yang ditulisin itu menye-menye, saya dicap terlalu patah hati, nanti tulis yang nyelekit dan tajam, dianggap terlalu frontal. But why caring so much when you’re happy doing it?
Dan apakah blog Annisa Mulia sudah tidak berisi foto-foto lagi seperti dulu? Ngga juga, Cuma belakangan kan lagi di kampung orang, ngga banyak bawa outfit, kadang-kadang ngga nemu wifi. Terus kan kemarin kerja, kan kerjan banker hectic sekali, susah mau blogwaking atau hapalah-hapalah. Alasaaaaaaaaaan xD

Well, have a good day ^^

Yogyakarta, 28 Maret 2016

Thursday, 24 March 2016

Bahasa Cinta

Dia adalah seseorang yang terus-terusan ingin saya mintakan maafnya.. 
Dia pernah bilang “Masalah kita cuma satu, bahasa kita beda”. Ada lima bahasa cinta menurut penelitian; kata-kata, sentuhan, pelayanan, hadiah dan waktu. Sepertinya, bahasa cinta terbesar saya adalah kata-kata. Saya orang yang verbal, apa-apa dibilang dan saya butuh sekali untuk dibilangin sayang dan rindu, bahkan berulang-ulang. Nah dianya kagak, sekali ngomong udah deh. Saya juga senang sentuhan, that sweet warm comforting touch, saya senang meluk, puk-puk atau sekedar elus-elusan kecil di kepala. Saya orang yang akan menggandeng sepanjang jalan. But he’s not, dia pemalu (walaupun ketutup dengan pembawaan dan penampilannya). Ketika saya begitu menikmati deep and long conversation, dia apa-apa pasti praktis. Bicara selalu seperlunya saja. Bisa dihitung deh berapa kali dia ngungkapin perasaannya ke saya. Yang menyebabkan saya merasa tidak (begitu) dicintai. Padahal menurut dia, dia udah ngelakuin yang terbaik, bahkan bela-belain walaupun lagi ngantuk atau pusing untuk temenin dan nganter-nganterin saya. Dia yang entah sadar atau tidak, rajin nentengin tas saya dan merhatiin barang-barang saya, saya pelupa dan sering ketinggalan barang. Tampaknya si abang adalah orang dengan bahasa cinta pelayanan.
Acceptance, penerimaan, adalah bagian dalam hubungan yang sering digadang-gadang tapi susah-susah gampang untuk direalisasikan. Saya dan dia sebenarnya sudah di fase sama-sama tau sifat masing-masing kaya gimana. Tapi semua berbeda ketika negara api menyerang. Teori-teori tentang itu semua, pemahaman saya tentang sikap dan sifat bisa hilang kalau kita lagi terpicu konflik. Dia tipe yang menghindar, sayanya malah suka heboh bahasin, nanya, dan cari-cari solusi. Belum lagi reaksi dan prasangka-prasangka saya yang suka berlebihan, pfiuh. Dia diam padahal ngga pengen masalah jadi lebih dalam, sayanya merasa dia ngga pedulian. Saking bedanya sifat kita, saya sering merasa dia itu dari Pluto yang jauh dan sulit dijangkau nun dingin di sana, sayanya Merkurius yang meledak-ledak dan sangat emosional.
Dia adalah orang yang tidak ekspresif, saya paham itu. Tapi beda cerita ketika saya sedang kelelahan atau badmood. Saya akan merasa dia annoyed atau marah. Bolak-balik saya tanyain “Kamu marah?”. Dia jawab ngga, ya karena memang ngga, memang bawaannya kaya gitu. Saya kaya radio rusak bakal nanya lagi “Kamu marah?” Dia masih jawab ngga. Saya tanya lagi, akhirnya dia beneran marah L
Semua memang berbeda ketika konflik datang, lebih-lebih saat tekanan dari hal-hal lain bermunculan, kaya masalah kantor, temen dan bahkan kurangnya tidur pasangan kita. Teorinya, semua harus dipilah. Tapi karena kita merasa pasangan adalah yang paling paham kondisi dan karakter, kitanya tanpa sadar suka lupa, kalau dia bukan tempat untuk kita tumpahkan segala kekesalan. Mungkin mereka menerima kita apa adanya, tapi sifat-sifat buruk dan ngga baik sudah seharusnya diminimalisir atau dihilangkan. Karena masalah seperti ini, miskomunikasi, bukan hal yang sepele. Sudah sewajarnya dibicarain, bukan digantungin dengan alasan supaya konflik ngga terjadi.
Untuk dia, saya adalah wanita yang hobi merajuk dan ngambekan. Terus saya ini anaknya blak-blakan, rada nyablak, gamang dan tidak bisa menunda respon. Jika saya menahan sesuatu untuk dikatakan, semua akan terlihat jelas. Sesekali unyu ya? Di awal-awal dia akan habisin waktu untuk bujuk-bujukin saya biar ngga marah. Bagusnya, saya mudah kepancing. Ibarat anak kecil yang dibelikan permen atau ice cream, marahnya saya lansung hilang. Tapi tidak ketika yang kesal adalah dia, saya kesulitan sekali. “Apa sih yang ada di dalam otak orang-orang introvert dan pendiam?”. Mereka sangat sensitif. Masalah besar untuk saya yang suka lupa diri kalau udah mulai nyerang dengan kata-kata; nyelekit, tipis dan tajam. Saya selalu sangat menyesal setelah itu, sangat menyesal. Ada saat saya berharap sayanya bisa lebih kalem atau ngga terlalu impulsive, jadi orang yang saya sayangi, tidak harus terluka berulang kali. Tapi pun begitu, hati terdalam saya kadang bertanya, apakah dia juga semenyesal saya? Apakah pernah dia berkeinginan untuk sedikit belajar caranya saya?
Karena sungguh alangkah menyedihkan ketika dua anak manusia yang pernah bersikukuh untuk menyatu, malah hancur hubungan hanya karena beda cara bicara dan bahasa. Tidak ada yang salah dengan dia, tidak juga aku. Tapi tidak bisakah kita, paling tidak mencoba belajar bahasa yang berbeda? Agar semua yang kita usahakan tidak berakhir begini saja.
I am sorry, B.

Pare – Kediri, 24 Maret 2016

Wednesday, 23 March 2016

Teman Perjalanan

Saya tipe orang yang pikirannya sering baik dan (hampir) selalu percaya semuanya akan baik-baik saja. Ngga bagusnya dari sifat ini, saya jadi ngga aware, kurang hati-hati, gampang ditipu-tipu dan dimanfaatin. Pernah banget dijambret, dua kali malahan. Tapi di balik itu semua, lebih banyak baiknya daripada mudhorat. Karna menurut saya, apa yang dipikirin itu ya apa yang bakal kejadian. Ada hal-hal yang bakal nuntun kita ke tempat atau orang yang satu tujuan, seide, sepemikiran atau se se lainnya. Terutama ketika berurusan dengan hal-hal baru, kaya lagi di jalan atau traveling.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...