Thursday, 22 June 2017

Main-Mainlah ke Pidie: Perut Senang, Dompet Tak Kerontang

Satu dekade lamanya dulu saya merantau. Baru-baru ini balik lagi jadi warga Pidie. Alhamdulillah ya KTP elektroniknya sudah jadi, jadi ngga harus kantongin surat keterangan dari Capil lagi hehe.. Tapi kita di sini tidak akan membahas masalah pencatatan sipil, kecuali nanti abang itu ngajak berumah tangga biar kami bisa satu KK :p
Bahasan kali ini adalah bagaimana makanan dari Pidie itu selalu jadi yang saya rindukan setiap bepergian. Jika ada teman dari daerah lain bertanya tentang wisata apa yang bisa mereka nikmati di kampung saya, “Kuliner, tentu saja!” Jawab saya bangga. 10 tahun tidak berdomisili di sini membuat saya memilki asumsi pribadi jika Pidie adalah surga bagi pencinta jajanan, terutama yang tradisional. Masih banyak sekali kita temui di pinggir jalan pondok-pondok yang menjual makanan dan minuman dengan harga yang sangat terjangkau. Dari tempat lain yang saya singgah dan tinggali di provinsi ini, belum pernah saya menemukan makanan yang lebih beragam dari Pidie. Kalimat yang sering saya katakan pada teman adalah, “Kalau di Sigli, kurang dari sepuluh ribu saja kita sudah kenyang”.
Mie Caluek Grong-grong
Satu makanan yang fenomenal dan kalau kata saya memang berasal dari Pidie adalah Mie Caluek. Secara harfiah, ‘caluek’ itu berarti mengambil sesuatu dengan tangan dari suatu wadah. Nama ini mendeskripsikan bagaimana cara mie caluek disajikan; dicomot-comot. Di pasar tradisional, banyak yang menjual mie ini bersamaan dengan kue-kue basah. Cukup belanjakan dengan recehan kembalian parkiran, anda akan kenyang; dua ribu untuk mie, tiga ribu untuk tiga potong gorengan.
Campuran untuk Mie Caluek; tempe, kacang merah atau urap
Melipir ke dalam pasar Kota Sigli, di antara toko-toko yang menjual pakaian, masih saja akan kita temui penjual makanan. Favorit saya adalah Mie Arang. Ini adalah jenis mie goreng yang biasa kita temukan di Aceh. Disebut mie arang karena dimasaknya dengan menggunakan tungku arang. Wanginya semerbak sekali. Capek-capek habis kelilingin pasar pasti berasa hilang kalau sudah duduk di sini. Banyak anak-anak sekolah yang pulangnya juga mampir untuk makan. Pasangan favoritnya adalah es campur atau sirup merah. Kebahagiaan yang sangat sederhana. Apalagi harganya juga ramah di kantong. sepuluh ribu sudah cukup untuk makan dan minum. Malah kadang ada kembalian.

Transaksi di pasar tradisional
Di Kota Sigli, daerah domisili saya, terdapat banyak sekali kuliner yang seingat saya sudah ada di sana semenjak saya kecil. Sebut saja Bakso Bibik, Mieso Sabang, dan Mie Kocok Awak Away. Apalagi sekarang pantai Kota Sigli yang dinamakan Pantai Pelangi ini sudah sangat berwarna-warni. Dari kacang rebus, siomay, bakso bakar sampai kuota internet dan eskrim pun ada. Tempat-tempat ini sangat familiar di kalangan penduduk asli tapi belum banyak diketahui oleh wisatawan. Saya teringat dengan Mie Jalak dan Mie Sedap dari Sabang yang tokonya tak pernah kekurangan pendatang. Yang ketika saya masih domisili di sana, sering sekali dititipi untuk membelikan. Ini terjadi karena sudah tercatat di mindset orang kalau ke Sabang ya makan mie kocok. Mari kita tidak membuat excuse dengan mengatakan kalau Sabang itu wajar dikenal karena potensi wisatanya besar. Lalu Pidie kurang apa? Kita punya wilayah yang lebih luas dan varietas makanan yang lebih beragam. Hanya bagaimana caranya supaya tourism marketing kita itu kreatif dan niat dikerjakannya, jadi kita bisa menarik orang untuk datang.

Sebagai daerah lalu lintas antar provinsi, kita bisa memanfaatkan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai target utama. Sebagian dari mereka adalah konsumen spontan yang melepas lelah. Sebagiannya lagi adalah para pejalan yang rutin melewati Pidie. Bagaimana caranya kita bisa membuat mereka untuk memilih beristirahat di sini dibandingkan dengan tempat yang lain? Tentu saja dengan memberi kesan pertama yang mempesona. Misalnya dengan deretan pondok rujak atau mie caluek yang ciamik di pinggir jalan dekat sawah, seperti pondok-pondok air tebu di Seulimum yang juga menyuguhkan pemandangan. Keramaian seperti ini seringkali mampu menarik orang untuk jadi penasaran. Tariklah mereka terlebih dulu dengan mata, yaitu lokasi yang bersih dan rapi. Selanjutnya soal nyaman dan rasa, jika kualitas dipertahankan, konsumen akan melakukan pembelian berulang. Jangan pernah remehkan keampuhan ‘word of mouth’ dimana loyal consumer akan merekomendasikan lagi pada kerabatnya untuk datang. Omongan-omongan inilah yang mampu menaikkan citra Pidie sebagai daerah yang layak sekali untuk dikunjungi.

Bungkusan Mie Caluek
Banyaknya ragam jenis makanan di kampung halaman membuat saya memimpikan jika Pidie tercinta ini memiliki suatu produk yang melekat. Yang spontan akan diingat orang ketika berkunjung atau meminta oleh-oleh. Kerupuk mulieng (melinjo) sudah pasti juara, tapi panganan yang ringan, terjangkau dan mudah dibawa tentu saja akan lebih membuat lega. Saya pribadi merindukan sebuah produk dengan ciri khas yang akan dikaitkan dengan Pidie. Satu maskot yang akan membuat orang berkomentar ketika ada yang menjinjing produknya, “Pasti baru dari Pidie ya?”. Seperti contohnya teman-teman saya yang selalu minta dibawakan bakpau panggang Indah Sari setiap balik ke Banda Aceh. Seperti juga ingatan tentang tape dan keripik yang langsung terbayang ketika menyebut kata Saree. Atau kue nagasari yang sering dibawa dari Bireun. Itulah harapan saya.

Demi kemajuan kampung halaman ini, kita bisa memulainya dari diri sendiri, mempromosikan wisata daerah dari hal-hal paling kecil. Tugas pertama yang bisa kita lakukan sebagai awak Pidie adalah dengan bangga pada identitas. Kemudian dengan rajin bercerita pada teman atau saudara apa-apa saja yang bisa dinikmati di sini, entah itu yang mengenyangkan perut atau menyenangkan mata. Sebagai pencinta makanan, festival kuliner Pidie sepertinya juga bukan ide buruk ya?

All photo credits go to: Akbar Rafsanjani



Happy Ramadhan ^^
Annisa Mulia Razali

1 comment:

  1. Benar tu.. Mie caluek grongw memang juara. Aku pribadi bisa makan sampe e bungkus plus kacang merah dibeli terpisah 5000an biasanya.

    Word of mouth itu setuju banget.. Istilah nya radio meuigoe. Tapi yang disiarkan adalah hal2 positif ttg wisata Pidie..

    Same here, hope for better pidie.

    ReplyDelete

Thank youuuu for dropping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...